Keterkaitan Filsafat dan Pemikiran
Auguste Comte ( Posivisme )Dalam Dakwah
Siti
Maryam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
E-mail :
sitimaryam160620@gmail.com
ABSTRAK
Kata Kunci: Filsafat, Auguste comte, positivistik, keislama, dakwah
ABSTRACT
Western philosophers have succeeded
in producing and developing various sciences, both science and social sciences.
Auguste Comte, a French philosopher who succeeded in initiating an
understanding of positivism. Positivism which is a flow of understanding that
natural science is the only science and understands the world only with
science. The opinion of this school is that the observer's senses are the most
important in obtaining knowledge, but it must be assisted by experimentation
when viewed from its ethical value towards science if a paradigm is positivism
then the object must be empirical. While da'wah itself can be defined as
calling, inviting, and conveying the teachings of Allah SWT. Here the author
will discuss about how to combine and what is needed to combine positivistime
with da'wah.
Keywords: Filsafat,
Auguste comte, positivistik, keislama,
dakwah
1.
Pendahuluan
(11 pt,
bold)
Sebenarnya
makna filsafat yang dipahami oleh masyarakat Yunani tidak sederhana seperti
arti filsafat yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “ the love of
wisdom”, melainkan lebih pada usaha pencarian yang berhubungan dengan
pengembangan ilmu pengetahuan atau dalam bahasa lain lebih mengembangkan pada
sikap curiosity (rasa ingin tahu) yang dimiliki oleh manusia untuk
mengungkapkan hakikat segala sesuatu yang ada.
Filsafat yang tumbuh di Yunani sebenarnya bukanlah segala awal mulanya filsafat di dunia seperti pendapat
umum yang ada selama ini. Di Mesir kuno sebenarnya telah berkembang
pemikiran yang bersifat filosofis.
Mesir telah berhasil melahirkan
pemikiran tentang hakikat alam semesta, masalah sosial dan etika manusia.
Bahkan, menurut Hasan Hanafi, filsafat Yunani tidak lepas dari pengaruh asia
kecil yang secara geografis dan historis bersinggungan dengan peradaban
Mesopotamia dan agama timur, terutama dari Persia. Hasan Hanafi menyatakan bahwa Phytagoras
mengenal matematika Timur dan Tasawufnya. Plato pernah belajar di Memphis
selama kurang lebih 15 tahun. Teorinya tentang idea diambil dari teori kesenian
Mesir Kuno. Hanya saja teori kesenian
Mesir Kuno diterapkan dalam lukisan yang kasat mata, sedangkan teori Pluto berupa pemikiran yang
abstrak.
Sama halnya
dengan Hasan Hanafi, Al-Amiri yang
merupakan seorang filsuf muslim dari Khurasan menyatakan bahwa tradisi filsafat
muncul pertama kali dari tradisi islam. Menurutnya, orang yang pertama kali
membangun tradisi filsafat adalah Luqman, sedangakan dinyatakan dalam Al-quran surat
Luqman ayat 12 “dan sesungguhnya kami telah memberikan kepada Luqman
al-hikmah”. Kata al-hikmah oleh para filsuf dan pemikiran islam
sering kali diidentikan dengan filsafat, karena al-hikmah artinya
bijaksana dan relevan dengan makna filsafat itu sendiri. Di Yunani, kata
filsafat memang muncul untuk pertama kalinya. Namun benih-benih pemikiran
filsufis pada dasarnya telah ada, terutama berasal dari peradaban timur seperti
Mesir Kuno, Mesopotomia dan sebagainya. Filsafat dapat dikatakan sebagai pengetahuan
yang bersumber dari tradisi islam yang memiliki nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Dengan pemahaman seperti ini,
keberadaan filsafat menjadi penting bagi kehidupan manusia, tidak terkecuali
umat islam.
Pada abad ke
-19 merupakan abad munculnya positivisme
suatu abad yang ditandai oleh peranan yang sangat menentukan dari
fikiran-fikiran ilmiah, atau apa yang disebut ilmu pengetahuan modern.
Kebenaran atau kenyataan filsafat dinilai dan diukur menurut nilai positivistiknya,
sedang perhatian orang kepada filsafat, lebih ditekankan kepada segi-seginya yang
praktis bagi tingkahlaku dan perbuatan manusia. Orang tidak lagi memandang
penting tentang dunia yang abstrak. Auguste comte merupakan seorang filsuf yang berhasil mengembangkan positivisme, melalui hukum inilah ia
menyatakan bahwa sejumlah umat manusia, baik secara individu, maupun secara
keseluruhan, telah berkembang menurut tiga tahap, yaitu tahap tiologi (fiktif),
tahap metafisik (abstrak), dan tahap positif (ilmiah/riel). Secara eksplisit
pula ia tekankan bahwa istilah “positif” suatu istilah yang dijadikan nama bagi
aliran filsafat yang dibentuknya sebagai sesuatu yang nyata, pasti, jelas,
bermanfaat serta sebagai lawan dari yang negatif. Atas dasar seperti hal-hal diatas, maka sangat
menarik untuk mendalami jalan fikiran Auguste Comte ini, melalui pemahaman
ajaranya tentang hukum tiga tahap, karena hukum inilah yang ternyata merupakan
unsur pokok seluruh pandangan filsafatnya, sehingga melalui hukum itu pula,
akan dapat dilacak garis-garis pembatas yang telah ia berikan tentang ajaran
mengenai penjelasan tentang sejarah perkembangan masyarakat di barat sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan, serta dasar-dasar yang ia berikan untuk
memperbaharui keadaan masyarakat yang kemudian berusaha dicari sumbangsihnya
terhadap perkembangan kajian atau ilmu dakwah.
Banyak
definisi yang telah dibuat untuk merumuskan pengertian dakwah yang intinya
adalah mengajak manusia ke jalan Allah
agar mereka berbahagia di dunia dan di akhirat. Sebagainya dakwah itu bisa
dipahami sebagai materi (mendengarkan dakwah) sebagai perbuatan (sedang
berdakwah), dan sebagai pengaruh (berkat adanya dakwah). Dalam bahasa Arab, da’wat atau da’watun
bisa diartikan undangan, ajakan, dan seruan yang kesemuanya menunjuk menunjukan
adanya komunikasin antara dua pihak dan upaya mempengaruhi pihak lain. Dalam
perkembangan terkini dakwah secara
substantif bisa di pahami kedalam dua dimensi yaitu dakwah sebagai ilmu dan
dakwah sebagai aktivitas. Sebagai ilmu, dakwah meerupakan kesatuan pengetahuan
yang tersusun secara sitematis yang antar bagiannya saling beerhubung dan
memiliki tujuan tertentu yang bersifat teoritis maupun praktis . sedangkan
dakwah sebagai aktivitas hakikatnya merupakan pergerakan (harakah) transformasi
islam menjadi tatanan kehidupan pribadi, keluarga, jamaah, ummah dan daulah.
Krisis
kemanusiaan yang terjadi dewasa ini merupakan salah satu dampak kemajuan sains. Oleh sebab itu,
peranan dakwah islam sangat dibutuhkan untuk mengarahkan dan menuntun manusia
dalam menghadapi segala ploblematikanya, sehingga akan dapat terbentuk sebuah
tatanan kehidupan yang harmonis dan telah berorientasi pada kesejahteraan serta
kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Penelitian ini
sebenarnya bertujuan agar mengetahui apakah
pemahaman ilmiah yang dikembangkan oleh para ilmuan barat yang dikenal
dengan filsafat dapat dipadukan dengan
dakwah dalam kontek keislamannya, serta adakah wacana didalam al-quran mengenai
sebuah filsafat.
1.1. Teknik Penulisan
Naskah full paper
menggunakan kertas ukuran A4. Naskah ditulis dengan word office 2013 ditulis dalam
Bahasa Indonesia. Panjang full paper 10 s.d. 27 halaman. Penulisan menggunakan jenis huruf Times New Roman ukuran 11 pt. Layout naskah menggunakan two columns.
Halaman tidak perlu diberi nomor halaman. Tidak boleh diberi catatan kaki (footnote).
2.
Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penyusunan naskah ini, yaitu dengan
metode penelitian Pustaka (library research) yaitu penelitian dengan
membaca dan mempelajari literaturbyang ada hubungannya dengan persoalan yang
diteliti atau serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan pengumpulan hingga
pengolahan data Pustaka. Data yang telah diperoleh dari berbagai sumber Pustaka
kemudian dianalisis dan dideskripsikan dalam bentuk naratif dan deskriptif.
3.
Hasil dan Pembahasan
A.Filsafat
Positivisme
Positivisme adalah salah satu aliran
filsafat yang menyatakan bahwasanya ilmu alam adalah ilmu satu-satunya sumber
pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak
mengenal adanya spekulasi, dan semua berdasarkan data empiris. Positivisme berasal dari kata “positif” yang sama artinya dengan factual, yaitu apa
yang berdasarkan fakta-fakta dan menolak semua keberadaan segala kekuatan atau
subjek dibelakang fakta, menolak semua penggunaan metode di luar yang digunakan untuk menelaah data.
positivisme juga bisa memberikan sebuah kunci pencapaian hidup manusia dan ia
dikatakan merupakan satu-satunya formasi sosial yang benar-benar bisa dipercaya
kehandalan dan akurasinya dalam kehidupan dan keberadaan masyarakat.
Pendiri filsafat positivisme yang
seseungguhnya ialah Hendry de saint simon sekitar taun 1825. Simon yang
merupakan teman dikusi sekaligus guru dari Auguste comte, menurut simon untuk memahami sejarah orang harus mencari
dulu sebab - akibat, hukum-hukum yang mengawasi proses perubahan. Simon juga
merumuskan bahwa ada 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap teologis,
(priode feodalisme), tahap metafisis (priode absolitisme dan tahap positif yang
mendasari masyarakat industri). Lalu pada abad ke 19 Auguste comte berhasil
mengembangkan positifisme. Menurut Auguste Comte positivism mengandung dua makna, yaitu
positivisme sebagai metode pengkajian ilmiah dan positivism sebagai suatu
tingkatan dalam pikiran manusia.
Untuk dapat memahapi filsafat
positivisme yang dikembangkan oleh Auguste comte baik dalam pandangan umum
maupun dalam pengertian perkembangannya, Diperlukannya pemahaman positif
menurut Auguste comte.
1. Sebagai lawan atau kebalikan atas sesuatu
yang bersifat khayal, maka positif diartikan sebagai hal yang nyata.
2.
sebagai lawan atau kebalikan atas sesuatu yang tidak bermanfaat, maka
pengertian positif diartikan sebagai pensidatan sesuatu yang bermanfaat.
3.
sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang meragukan, maka pengertian positif
diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang sudah pasti.
Potivisme merupakan empirisme, yang
dalam kesimpulan tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena
pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atua lain bentuk.
Maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahapandalam
perkembangan positivisme, yaitu:
1. Tempat utama dalam positivisme yaitu
diberikan kepada sosiologi, walaupun perhatiabbya juga diberikan padda teori
pengetahuan yang diungkapkan oleh Conte tentang logika yang dikemukakan oleh
Mill.
2. Munculnya tahapan kedua dalam
positivisme emprio positivisme berawal pada tahun 1870-1890an dan berpautan
dengan Mach dan Avenarus meduannya meninggalkan pengetahuan formal tentang
obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan ciri positivisme awal. Masalah-
masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang
bergabung dengan subyektivitas.
3. Perkembangan positivisme tahap akhir
berkaitan dengan wina dan tokoh- tokohnya. O. neurath, carnap, schlick, fank,
dan lain-lain. Serta sekelompok orang yang turut berpengaruh pada perkembangan
tahap ketiga ini yaitu mayrakat Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan
sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika.
Pokok bahasa positivisme tahap akhir ini diantaranya tentang bahsa, logika,
simbolis, stuktur dan penyelidikan ilmiah serta ilmu- ilmu lainnya.
Secara
umum tokoh-tokoh positivisme yaitu
1. Hendry de Saint Simon
2. Auguste comte
Melontarkan
konsep “positivisme” dan menyodorkan konsep “sociology” karena memang ia
merupakan bapak dari ilmu sosiologi. Maka tak heran jika positivisme dekat
dengan sociology dan di dalam sociology dipengaruhi oleh positivisme
3. John Stuan Mill
Ia lahir
di London, Inggris pada tahun 1606 dan meninggal di prancis 8 mei 1873 dan
meninggal di Prancis pada 8 mei 1873. Stuan mill merupakan anak sulung dari
seorang filsuf., Stuan mill tidak pernsh sekolah tetapi ayahnya mempunyai
pempunyai Pendidikan yang sangat baik. Pada usia 3 tahun ia sudah mempelajari
bahasa Yunani, pada usia 8 tahun ia belajar bahsa latin dan ekonomi politik
karya asli Aristoteles.
4. Emile Duekheim
Jika
Auguste comte merupakan tokoh tataran filosofis positivisme maka di dalam
tataran keilmuan positivisme Emile duekheim lah yang merupakan tokohnya.
Perkembangan
positivisme
Menurut Bryant di dalam bukunya
menyatakan bahwasanya ada 12 yang merupakan prinsip-prinsip dari positivisme
diantaranya :
1. Hanya ada satu dunia, dan di dunia ini
hanya memiliki satu esistensi objektik. Hal tersebut mereka contohkan dengan
bahwasanya dunia ini sudah hadir sebelum subjek hadir.
2. Dunia ini mempunyai unsur pembentuk
dimana unsur pembentuk ini bergerak dan yang mengatur gerakannya ialah hukum
hukum tertentu. Dan unsur unsur ini bisa ditemukan hanya lewat ilmu
pengetahuan. Dan oleh karena itu positivisme berfikir bahwa sains itu hanyalah
pengetahuan dan pengetahuan itu hanyalah sains. Dan segala hal yang tidak
diketahui itu bukan lah pengetahuan.
3. Ilmu pengetahuan itu nalar dan
observasi. Orang positivisme mengakui bahwasanya ilmu pengetahuan tidak dapat
mengetahui semua unsur yang ada di dunia dan tidak bisa menemukan siapa yang
mengaturnya.
4. Ilmu sosial itu selalu relative,
terhadap perkembangan dan kemajuan dalam organisasi sosial.
5. Manusia itu tertata dan ada ketertiban.
Dari prinsip – prinsip yang di
pegang oleh positivisme ternyata dapan menjadi penyebab awal mulanya filsafat
profetik, dan profetik ini lah yang mengkritik prinsip- prinsip dari positivisme.
Diantara kritiknya profektif menyatakan bahwasannya sains bukan satu satu-
satunya ilmu, tapi salah satu dari ilmu itu sains Pengetahuan yang diproleh
dari prosedur dan metode tertentu yang mana basis utamanya yaitu observasi. Dan
jika di teliti lebih lanjut bahwa ternyata dari 12 prinsip positivisme
bahwasanya tidak ada yang menyinggung mengenai “bahasa”, padahal bahasa menjadi
realitas yang mana banyak yang kita ketahui dari hasil membaca. Sains juga di
dasarkan pada bahasa karena al-quran pun pertama kali diturunkan kata yang
pertama itu “iqra” dan bacalah bukan lihatlah, dan bahkan semua isi al-quran
pun dibaca. Dari 12 prinsip positivisme tidak semuanya tepat, dan hal itu lah
yang sebenarnya menjadi kelemahan terbesar dari positivisme.
Pada intinya sifta dari suatu
organisasi sosial suatu masyarakat sangat tergantung pada pola-pola berfikir
yang dominan, dan comte percaya bahwa begitu intelektual dan pengetahuan kita
tumbuh maka masyarakat secara otomatis akan ikut pula. Perkembangan masyarakat,
perkembangan ilmu pengetahuan, sains dan perkembangan yang lainnya selalu
mengikuti hukum yang empiris sifatnya dan comte merumuskan kedalam 3
tahapannya.
B.
Perkembangan Filsafat di Dunia Islam
Perkembangan islam yang begitu cepat
kala itu serta kekuasaan pemerintahan
yang semakin meluas memaksa kaum muslimin untuk berhadapan dengan berbagai
kebudayaan yang sudah lebih maju. Hal ini meniscayakan suatu usaha memadukan
antara islam dengan berbagai unsur yang sesungguhnya asing. Dalam sejarah pembentukan
filsafat islam adalah saat bertemunya islam dengan filsafat Yunani di Bagdad
pada masa kekhalifahan abbasiyah. Pada saat itu, kaum muslim tidak saja
menguasai wilayah Syria dan Mesir, melainkan juga Persia dan seluruh wilayah
yang dalam sepanjang sejarahnya sudah berada dibawah kebudayaan dan keilmuan
Yunani. filsafat didalam islam memasuki masa keemasannya dengan munculnya para filsuf yang terkenal
diantaranya Al-Kindi (870 m), Al-Farabi (950 m), Ibnu Sina (1037 m) dan Ibnu
Khaldun (1406 m). Menurut Mehdi Mohagheh
di dalam makalahnya “revival of Islamic philosophy in the safavid period
with a special reference to mir damad”. Bahwa mundurnya filsafat di dunia sunni
disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, Sebagian besar penerjemah yang terlibat
dalam penerjemahan karya-karya filsafat Yunani kedalam bahasa Arab adalah
orang-orang Kristen. Selain mereka tidak memngenal jauh apa yang mereka
kerjakan, mereka juga kurang dalam penguasaan literatur bahasa arabnya. Kedua,
serangan Al-Ghazali terhadap para filusuf dalam bukunya tahaful al-falasihah
dan kecamannya atas mereka sebagai pembawa bid’ah karena mereka yang
menyebarkan gagasan-gagasan yang tidak semestinya. Meskipun pada saat itu Ibnu
Rusyd melakukan pembelaan, dengan menulis kitab tahafulal-maqal, tetapi tidak
efektif. Ketiga, lebih bersifat kearah teknis dimana gaya filsafat al-farabi
dan ibnu sina aga sulit dicerna dan dikaji oleh para pengkajinya.
Kesadaran berfilsafat mulai tumbuh
Kembali dikalangan umat islam hingga sekarang ini Ketika Jamaluddin Al-Afghani
(1835-1897 M) memperkenalkan tradisi isyraqiyah kepada mahasiswanya.
Diantaranya yaitu Muhammad Abduh, dan ditangan Muhammad abduh ini pembelajaran
filsafat masuk dalam kulikulum perguruan tinggi di al-azhar yang notabene
menjadi prototype perguruan agama islam di Indonesia (PTAI). Melalui PTAI
inilah filsafat mulai diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia dan filsafat
juga diyakini sebagai pengetahuan yang penting bagi masyarakat dalam
meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan.
C.
Manfaat Filsafat Dalam Perkembangan Dakwah
Dalam tradisi filsafat isalam, para
filsuf muslim tidak melakukan kajian secara spesifik tentang dakwah islam.
Mereka cenderung mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan tuhan, manusia,
penciptaan alam, metafisika, logika dan etika. Dakwah sendiri menurut Syeikh
Ali Mahfudz ialah: mendorong manusia agar memperbuat kebaikan dan menuruti
petunjuk, memerintah mereka berbuat kebajikandan melarang mereka dari perbuatan
yang mungka, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat”.
Sedangkan menurut Bakhyul Khullie dakwah yaitu “ dakwah ialah memindahkan
situasi umat dari situasi kesituasi lain yang lebih baik.” Maka dapat ditarik
kesimpulan bahwasannya dakwah ialah suatu kegiatan untuk membina manusia untuk
menaati agama islam,guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia maupun di
akhirat. Perbedaan manusia dengan makhluk lainnya terletak pada kemampuan
berfikir yang dimiliki oleh manuisa. Manusia dengan akalnya mampu memikirkan
berbagai hal yang terkait dengan ciptaan allah dan bahkan mengenal penciptanya. Dengan akal juga manusia dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk memaksimalkan fungsi akal
yang ada pada diri manusia, maka perlu diupayakan pengembangannya dengan melalui
proses pembelajaran filsafat. Didalam filsafat dipelajari berbagai metode dalam
berfikir, sejarah pemikiran, hakikat pemikiran, dan manfaat dari sebuah
pemikiran. Sama halnya dengan akal
didalam filsafat juga dipejari mengenai suatu ilmu dengan adanya (ontology, epistimologi dan aksiologi).
Mengingat filsafat meerupan
kebutuhan dasar bagi setiap individu, maka seharusnya filsafat juuga dikenalkan
kepada calon da’I dan bahkan kepada para da’I agar mereka dapat memaksimalkan
akalnya dalam mengembangkan aktivitas dakwah. Da’I yang professional , salah
satunya diukur dari kemampuannya dalam menyampaikan materi dakwah. Bagaimana
seorang da’I dapat mengkemas materi dakwah yang dapat diterima oleh masyarakat,
tidak membosankan, dan sesui dengan apa yang dibutuhkan mad’u. disamping
memiliki kemampuan dalam penguasaan
bahasa dan komunikasi, juga dituntu untuk memiliki alur berfikir yang
logis dan sistematis. Pada hal inilah menjadikan filsafat memiliki peranan
penting dalam mengatur atur berfikir atau sesuai dengan kemampuan audiens, dan
bahkan filsafat berperan dalam membantu para da’I untuk dapat memahami
materidakwah yang lebih dalam dan komprehentif.
Selanjutnya da’I juga dituntut untuk
memiliki kontribusi dan pengembangan keilmuan dakwah. Pada konteks ini, dai
membutuhkan teori yang dibutuhkan dalam dakwah. Dalam merumuskan sebuah teori
seorang da’I , diperlukannya sebuah filsasat sebagai alat untuk menganalisis
dan mengkritisi berbagai persoalan, konsep atau gagasan yang melatar belakangi
munculnya teori-teori dakwah.
D.
Filsafat di dalam Al-Quran
Istilah filsafat memang berasal dari
bahasa Yunani, karenannya istilah filsafat tidak ada di dalam al-quran. Jika
filsafat diartikan dengan makna cinta pada kebijaksanaan, maka di dalam
al-quran istilah tersebut dikenal dengan istilah al-hiqmah. Kata tesebut
menjadi ciri khusus dari filsafat islamdan berakar sama dengan sifat allah
al-hikmah, (maha bijaksana). Kata al-hakim berkaitan derat dengan proses
dakwah, dimana dakwah , di mana dakwah bil hikmah dimaksudkan sebagai dakwah
yang dilakukan dengan terlebih dahulu memahami secara mendalam sebagai
persoalan yang berhubungan dengan sasaran dakwah, Tindakan-tindakan yang akan
dilakukan oleh masyarakat yang akan menjadi objek dakwa, situasi tempat dan
waktu saat dakwah dilaksanakan dan sebagainya.
Kata al-hikmah dipergunakan oleh
seorang filsuf Shadra al-muta’allihin
atau yang lebih dikenal dengan nama Mulla Shadra (1572-1641 M/ 979-1050 H).
beliu mengembangkan 4 konsep dalam perjalanan intelektual dalam hikmah yang
memuncak yaitu (al-asfar al-aqliyah al-arba’ah fi al-hikmah al-muta’aliyah).
Mulla shadra mengemukakanberbagai bukti pertautan timbal balik antara seluruh
potensi manusia. Peningkatan atau penyusutan salah satu bagian akan berdampak
pada berbagai tingkat eksistensi manusia secara keseluruhan. Perjalanan manusia
ibarat proses berkesinambung menaiki gradasi eksistensi yang tak terhingga.
Melalui konsep tersebut, Mulla shadra ingin menggabungkan kekuatan-kekuatan
yang ada antara filsafat, tasawuf dan toelogi ilmu kalam.
Berbagai motivasi dan dukungan yang
kuat dari al-quran terhadap penggunaan segala potensi yang dimiliki oleh
manusia, maka kehadiran al-quran telah mengubah pola berfilsafat dalam kontek
dunia islam secara radikal sehingga lahirlah “filsafat protektif”. Artinya
realitas dan proses metahistoris penyampaian al-quran merupakan perhatian utama
para pemikir islam dalam melakukan kegiatan berfilsafat. Dalam hal ini, para
filsuf tidak hanya mengandalkan kepada kemampuan yang bersifat rasional dan
empiris saja, melainkan juga pada kemampuan yang bersifat intuitif. Nama
“protektif” menunjukan asumsi dasar tertentu tentang manusia dan dunianya.
1. Protektif adalah nabi.
2. Nabi adalah seorang manusia yang
diyakini “diutus oleh Allah” kepada umat manusia.
3. Allah adalah sosok supranatural yang
maha esa, maha kuasa, maha pencipta, yang menciptakan dunia dengan segala
isinya.
4. Nabi diutus untuk menyempurnakan
pesan-pesan dari allah agar manusia dapat selamat dalam kehidupan di dunia dan
di akhirat.
Basis
paradigma protektif
Model
pertama yaitu model tauhid . Model antara hubungan Allah, Nabi, Manusia dan
Alam. Di dalam paradigma sains tidak ada allah dan nabi. Dan hal ini lah yang
mendakian perbedaan antara protektif dan positivisme. Model ini menunjukan manusia dan nabi dalam
relasinya dengan allah - tokoh
supernatural – dan alam, yang semuanya adalah ciptaan allah. Model menunjukan
dalah satu asumsi dasar paradigma
profetik asumsi tentang allah, nabi, manusia, dan alam kehidupan menunjukan
satu pandangan (kerangka berfikir) tertentu mengenai kedudukan manusia dalam
kehidupan di dunia.
4.
Simpulan
dan Saran
Positivisme merupakan salah satu aliran filsafat yang dikemukakan
oleh Hendy de saint simon pada tahun 1825 yang merupakan guru sekaligus teman
berdiskusi Auguste comte. Comte berhasil mengembangkan konsep positivisme.
Positivisme sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu “positif”yang berarti
mengedepankan sesuatu yang berupa fakta, dapat dibuktikan dengan indra-indra
yang positif. Sebenarnya semua ilmu baik pengetahuan maupun sosial saling
keterkaitan sama halnya dengan filsafat. Jika dilihat dari sejarah maka islam
lah yang pertama kali memperkenlan filsafat lewat luqman yang hidup pada jaman
nabi Daud. Namun siapa sangka bahwa filsafat mengalami perkembangan yang lebih
pesat di tangan orang-orang Yunani. Dalam hal dakwah manfaat filsafat amat
sangat besar dalam proses berdakwah, pemesahan masalah- masalh dakwah dan
kemasyarakatannya, serta pembangunan keilmuan dakwah.
Daftar Pustaka
Bertens, K. 1975. sejarah filsafat yunani. yogyakarta:
13.
Fakhry, Majid. 2002. Sejarah Filsafat Islam.
Bandung : Mizan.
Halim, Abd. 2008. Teori-teori Hukum Aliran
Positivisme dan Perkembangan Kritik-kritiknya 42 (II).
Hasanah, Hasyim. 2016. Arah Pengembangan Dakwah
Melalui Sisstem Komunikasi Islam 4.
Hasanah, Ulfatul. 2019. kontribusi pemikiran
auguste comte (positivisme) terhadap dasar perkembangan ilmu dakwah 2 (2).
Madjid, Nurcholish. 1994. "khazanah intelektual
islam." 56. jakarta: bulan bintang.
prabowo, Galeh. 2017. jurnal sosiologi walisong
1 (1): 33-64.
Wafiyah, Awaludin pimay. 2005. sejarah dakwah .
semarang: Rasail.
wibisno, keonto. 1983. Arti Perkembangan Menurut
Filsafat Positivisme Auguste Comte (2-3).
wibisono, koento. 1983. Arti Perkembangan Menurut
Filsafat Positivisme Auguste Gomte , 2-3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar