Selasa, 15 Desember 2020

jurnal dakwah

 

Keterkaitan Filsafat dan Pemikiran Auguste Comte ( Posivisme )Dalam Dakwah

Siti Maryam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

E-mail : sitimaryam160620@gmail.com

 

 

ABSTRAK

Filusuf barat telah berhasil melahirkan dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan baik sains maupun ilmu sosial. Auguste comte seorang filsuf dari perancis yang berhasil menjadi penggagas pemahaman positivisme. Positivisme yang merupakan aliran pemahaman bahwasanya ilmu alam merupakan satu – satunya ilmu pengetahuan dan memahami dunia hanya dengan sains. Pendapat aliran ini adalah bahwasanya indra pengamatlah yang paling penting dalam memperoleh ilmu pengetahuan, namun harus di bantu dengan eksperimen bila di lihat dari nilai etisnya terhadap sains apabila sebuah paradigmanya positivisme maka objeknya pasti empiris. Sedangkan dakwah sendiri dapat diartikan dengan menyeru, mengajak, serta menyampaikan ajaran Allah SWT. Disini penulis akan membahas mengenai bagaimana cara penggabungan dan diperlukan apa saja untuk menggabungkan antara positivistime dengan dakwah.

 

Kata Kunci: Filsafat, Auguste comte,  positivistik, keislama, dakwah

 

ABSTRACT

Western philosophers have succeeded in producing and developing various sciences, both science and social sciences. Auguste Comte, a French philosopher who succeeded in initiating an understanding of positivism. Positivism which is a flow of understanding that natural science is the only science and understands the world only with science. The opinion of this school is that the observer's senses are the most important in obtaining knowledge, but it must be assisted by experimentation when viewed from its ethical value towards science if a paradigm is positivism then the object must be empirical. While da'wah itself can be defined as calling, inviting, and conveying the teachings of Allah SWT. Here the author will discuss about how to combine and what is needed to combine positivistime with da'wah.

Keywords: Filsafat, Auguste comte,  positivistik, keislama, dakwah

 

 


1.     Pendahuluan (11 pt, bold)

Menurut catatan sejarah bahwa asal kata filsafat berasal dari Bahasa Yunani  yaitu philosophia yang berasal dari kata philo dan shopia yang berarti kebijakan. Jadi fisafat berarti cinta kebijaksanaan. Menurut K. Bertens, perkataan filsuf (philosophos) untuk pertama kali dalam sejarah dipergunakan oleh Phytagoras (abad ke-6 SM). Tetapi kesaksian sejarah tentang kehidupan dan aktivitas Phytagoras sering tercampur dengan legenda-legenda sehingga sering kali kebenarannya tidak dapat dibedakan dari rekan-rekan apa saja. Meskipun demikian, menurut K. Bertens, istilah filsafat dan filusuf telah lajim digunakan oleh Sokrates dan Plato ( abaad ke-5 SM). Kemudian istilah philosophia diarabisasikan dengan istilah falsafah dan bagi bangsa Indonesia terjadi pengharakatan yang salah dari deretan huruf f-l-s-f-h ( falsafah, Arab) atau (falsafat, Persia) dan dikenal dengan istilah filsafat.

               Sebenarnya makna filsafat yang dipahami oleh masyarakat Yunani tidak sederhana seperti arti filsafat yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “ the love of wisdom”, melainkan lebih pada usaha pencarian yang berhubungan dengan pengembangan ilmu pengetahuan atau dalam bahasa lain lebih mengembangkan pada sikap curiosity (rasa ingin tahu) yang dimiliki oleh manusia untuk mengungkapkan hakikat segala sesuatu yang ada.  Filsafat yang tumbuh di Yunani sebenarnya bukanlah segala awal  mulanya filsafat di dunia seperti pendapat umum yang ada selama ini. Di Mesir kuno sebenarnya telah berkembang pemikiran  yang bersifat filosofis. Mesir  telah berhasil melahirkan pemikiran tentang hakikat alam semesta, masalah sosial dan etika manusia. Bahkan, menurut Hasan Hanafi, filsafat Yunani tidak lepas dari pengaruh asia kecil yang secara geografis dan historis bersinggungan dengan peradaban Mesopotamia dan agama timur, terutama dari Persia.  Hasan Hanafi menyatakan bahwa Phytagoras mengenal matematika Timur dan Tasawufnya. Plato pernah belajar di Memphis selama kurang lebih 15 tahun. Teorinya tentang idea diambil dari teori kesenian Mesir Kuno. Hanya saja teori kesenian  Mesir Kuno diterapkan dalam lukisan yang kasat mata, sedangkan  teori Pluto berupa pemikiran yang abstrak. 

               Sama halnya dengan Hasan Hanafi, Al-Amiri  yang merupakan seorang filsuf muslim dari Khurasan menyatakan bahwa tradisi filsafat muncul pertama kali dari tradisi islam. Menurutnya, orang yang pertama kali membangun tradisi filsafat adalah Luqman,  sedangakan dinyatakan dalam Al-quran surat Luqman ayat 12 “dan sesungguhnya kami telah memberikan kepada Luqman al-hikmah”. Kata al-hikmah oleh para filsuf dan pemikiran islam sering kali diidentikan dengan filsafat, karena al-hikmah­ artinya bijaksana dan relevan dengan makna filsafat itu sendiri. Di Yunani, kata filsafat memang muncul untuk pertama kalinya. Namun benih-benih pemikiran filsufis pada dasarnya telah ada, terutama berasal dari peradaban timur seperti Mesir Kuno, Mesopotomia dan sebagainya. Filsafat dapat dikatakan sebagai pengetahuan yang bersumber dari tradisi islam yang memiliki nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan   pemahaman seperti ini, keberadaan filsafat menjadi penting bagi kehidupan manusia, tidak terkecuali umat islam.

               Pada abad ke -19 merupakan abad munculnya  positivisme suatu abad yang ditandai oleh peranan yang sangat menentukan dari fikiran-fikiran ilmiah, atau apa yang disebut ilmu pengetahuan modern. Kebenaran atau kenyataan filsafat dinilai dan diukur menurut nilai positivistiknya, sedang perhatian orang kepada filsafat, lebih ditekankan kepada segi-seginya yang praktis bagi tingkahlaku dan perbuatan manusia. Orang tidak lagi memandang penting tentang dunia yang abstrak.  Auguste comte merupakan seorang filsuf  yang berhasil mengembangkan  positivisme, melalui hukum inilah ia menyatakan bahwa sejumlah umat manusia, baik secara individu, maupun secara keseluruhan, telah berkembang menurut tiga tahap, yaitu tahap tiologi (fiktif), tahap metafisik (abstrak), dan tahap positif (ilmiah/riel). Secara eksplisit pula ia tekankan bahwa istilah “positif” suatu istilah yang dijadikan nama bagi aliran filsafat yang dibentuknya sebagai sesuatu yang nyata, pasti, jelas, bermanfaat serta sebagai lawan dari yang negatif.  Atas dasar seperti hal-hal diatas, maka sangat menarik untuk mendalami jalan fikiran Auguste Comte ini, melalui pemahaman ajaranya tentang hukum tiga tahap, karena hukum inilah yang ternyata merupakan unsur pokok seluruh pandangan filsafatnya, sehingga melalui hukum itu pula, akan dapat dilacak garis-garis pembatas yang telah ia berikan tentang ajaran mengenai penjelasan tentang sejarah perkembangan masyarakat di barat sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, serta dasar-dasar yang ia berikan untuk memperbaharui keadaan masyarakat yang kemudian berusaha dicari sumbangsihnya terhadap perkembangan kajian atau ilmu dakwah.

               Banyak definisi yang telah dibuat untuk merumuskan pengertian dakwah yang intinya adalah mengajak manusia ke jalan  Allah agar mereka berbahagia di dunia dan di akhirat. Sebagainya dakwah itu bisa dipahami sebagai materi (mendengarkan dakwah) sebagai perbuatan (sedang berdakwah), dan sebagai pengaruh (berkat adanya dakwah).  Dalam bahasa Arab, da’wat atau da’watun bisa diartikan undangan, ajakan, dan seruan yang kesemuanya menunjuk menunjukan adanya komunikasin antara dua pihak dan upaya mempengaruhi pihak lain. Dalam perkembangan terkini  dakwah secara substantif bisa di pahami kedalam dua dimensi yaitu dakwah sebagai ilmu dan dakwah sebagai aktivitas. Sebagai ilmu, dakwah meerupakan kesatuan pengetahuan yang tersusun secara sitematis yang antar bagiannya saling beerhubung dan memiliki tujuan tertentu yang bersifat teoritis maupun praktis . sedangkan dakwah sebagai aktivitas hakikatnya merupakan pergerakan (harakah) transformasi islam menjadi tatanan kehidupan pribadi, keluarga, jamaah, ummah dan daulah.

               Krisis kemanusiaan yang terjadi dewasa ini merupakan salah satu  dampak kemajuan sains. Oleh sebab itu, peranan dakwah islam sangat dibutuhkan untuk mengarahkan dan menuntun manusia dalam menghadapi segala ploblematikanya, sehingga akan dapat terbentuk sebuah tatanan kehidupan yang harmonis dan telah berorientasi pada kesejahteraan serta kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

               Penelitian ini sebenarnya bertujuan agar mengetahui apakah  pemahaman ilmiah yang dikembangkan oleh para ilmuan barat yang dikenal dengan filsafat  dapat dipadukan dengan dakwah dalam kontek keislamannya, serta adakah wacana didalam al-quran mengenai sebuah filsafat.

 

1.1. Teknik Penulisan

Naskah full paper menggunakan kertas ukuran A4. Naskah ditulis dengan word office 2013 ditulis dalam Bahasa Indonesia. Panjang full paper 10 s.d. 27 halaman. Penulisan menggunakan jenis huruf Times New Roman ukuran 11 pt. Layout naskah menggunakan two columns. Halaman tidak perlu diberi nomor halaman. Tidak boleh diberi catatan kaki (footnote).

 

2.     Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penyusunan naskah ini, yaitu dengan metode penelitian Pustaka (library research) yaitu penelitian dengan membaca dan mempelajari literaturbyang ada hubungannya dengan persoalan yang diteliti atau serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan pengumpulan hingga pengolahan data Pustaka. Data yang telah diperoleh dari berbagai sumber Pustaka kemudian dianalisis dan dideskripsikan dalam bentuk naratif dan deskriptif.

3.     Hasil dan Pembahasan

A.Filsafat Positivisme

            Positivisme adalah salah satu aliran filsafat yang menyatakan bahwasanya ilmu alam adalah ilmu satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, dan semua berdasarkan data empiris.  Positivisme berasal dari kata “positif”  yang sama artinya dengan factual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta dan menolak semua keberadaan segala kekuatan atau subjek dibelakang fakta, menolak semua penggunaan metode  di luar yang digunakan untuk menelaah data. positivisme juga bisa memberikan sebuah kunci pencapaian hidup manusia dan ia dikatakan merupakan satu-satunya formasi sosial yang benar-benar bisa dipercaya kehandalan dan akurasinya dalam kehidupan dan keberadaan masyarakat.

            Pendiri filsafat positivisme yang seseungguhnya ialah Hendry de saint simon sekitar taun 1825. Simon yang merupakan teman dikusi sekaligus guru dari Auguste comte, menurut simon  untuk memahami sejarah orang harus mencari dulu sebab - akibat, hukum-hukum yang mengawasi proses perubahan. Simon juga merumuskan bahwa ada 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap teologis, (priode feodalisme), tahap metafisis (priode absolitisme dan tahap positif yang mendasari masyarakat industri). Lalu pada abad ke 19 Auguste comte berhasil mengembangkan positifisme. Menurut Auguste Comte  positivism mengandung dua makna, yaitu positivisme sebagai metode pengkajian ilmiah dan positivism sebagai suatu tingkatan dalam pikiran manusia. 

            Untuk dapat memahapi filsafat positivisme yang dikembangkan oleh Auguste comte baik dalam pandangan umum maupun dalam pengertian perkembangannya, Diperlukannya pemahaman positif menurut Auguste comte.

 1. Sebagai lawan atau kebalikan atas sesuatu yang bersifat khayal, maka positif diartikan sebagai hal yang nyata.

2. sebagai lawan atau kebalikan atas sesuatu yang tidak bermanfaat, maka pengertian positif diartikan sebagai pensidatan sesuatu yang bermanfaat.

3. sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang meragukan, maka pengertian positif diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang sudah pasti.

            Potivisme merupakan empirisme, yang dalam kesimpulan tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atua lain bentuk. Maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahapandalam perkembangan positivisme, yaitu:

1.         Tempat utama dalam positivisme yaitu diberikan kepada sosiologi, walaupun perhatiabbya juga diberikan padda teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Conte tentang logika yang dikemukakan oleh Mill.

2.         Munculnya tahapan kedua dalam positivisme emprio positivisme berawal pada tahun 1870-1890an dan berpautan dengan Mach dan Avenarus meduannya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan ciri positivisme awal. Masalah- masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivitas.

3.         Perkembangan positivisme tahap akhir berkaitan dengan wina dan tokoh- tokohnya. O. neurath, carnap, schlick, fank, dan lain-lain. Serta sekelompok orang yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini yaitu mayrakat Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasa positivisme tahap akhir ini diantaranya tentang bahsa, logika, simbolis, stuktur dan penyelidikan ilmiah serta ilmu- ilmu lainnya.

Secara umum tokoh-tokoh positivisme yaitu

1.         Hendry de Saint Simon

2.         Auguste comte

Melontarkan konsep “positivisme” dan menyodorkan konsep “sociology” karena memang ia merupakan bapak dari ilmu sosiologi. Maka tak heran jika positivisme dekat dengan sociology dan di dalam sociology dipengaruhi oleh positivisme

3.         John Stuan Mill

Ia lahir di London, Inggris pada tahun 1606 dan meninggal di prancis 8 mei 1873 dan meninggal di Prancis pada 8 mei 1873. Stuan mill merupakan anak sulung dari seorang filsuf., Stuan mill tidak pernsh sekolah tetapi ayahnya mempunyai pempunyai Pendidikan yang sangat baik. Pada usia 3 tahun ia sudah mempelajari bahasa Yunani, pada usia 8 tahun ia belajar bahsa latin dan ekonomi politik karya asli Aristoteles.

4.         Emile Duekheim

Jika Auguste comte merupakan tokoh tataran filosofis positivisme maka di dalam tataran keilmuan positivisme Emile duekheim lah yang merupakan tokohnya.

Perkembangan positivisme

            Menurut Bryant di dalam bukunya menyatakan bahwasanya ada 12 yang merupakan prinsip-prinsip dari positivisme diantaranya :

1.         Hanya ada satu dunia, dan di dunia ini hanya memiliki satu esistensi objektik. Hal tersebut mereka contohkan dengan bahwasanya dunia ini sudah hadir sebelum subjek hadir.

2.         Dunia ini mempunyai unsur pembentuk dimana unsur pembentuk ini bergerak dan yang mengatur gerakannya ialah hukum hukum tertentu. Dan unsur unsur ini bisa ditemukan hanya lewat ilmu pengetahuan. Dan oleh karena itu positivisme berfikir bahwa sains itu hanyalah pengetahuan dan pengetahuan itu hanyalah sains. Dan segala hal yang tidak diketahui itu bukan lah pengetahuan.

3.         Ilmu pengetahuan itu nalar dan observasi. Orang positivisme mengakui bahwasanya ilmu pengetahuan tidak dapat mengetahui semua unsur yang ada di dunia dan tidak bisa menemukan siapa yang mengaturnya.

4.         Ilmu sosial itu selalu relative, terhadap perkembangan dan kemajuan dalam organisasi sosial.

5.         Manusia itu tertata dan ada ketertiban.

            Dari prinsip – prinsip yang di pegang oleh positivisme ternyata dapan menjadi penyebab awal mulanya filsafat profetik, dan profetik ini lah yang mengkritik prinsip- prinsip dari positivisme. Diantara kritiknya profektif menyatakan bahwasannya sains bukan satu satu- satunya ilmu, tapi salah satu dari ilmu itu sains Pengetahuan yang diproleh dari prosedur dan metode tertentu yang mana basis utamanya yaitu observasi. Dan jika di teliti lebih lanjut bahwa ternyata dari 12 prinsip positivisme bahwasanya tidak ada yang menyinggung mengenai “bahasa”, padahal bahasa menjadi realitas yang mana banyak yang kita ketahui dari hasil membaca. Sains juga di dasarkan pada bahasa karena al-quran pun pertama kali diturunkan kata yang pertama itu “iqra” dan bacalah bukan lihatlah, dan bahkan semua isi al-quran pun dibaca. Dari 12 prinsip positivisme tidak semuanya tepat, dan hal itu lah yang sebenarnya menjadi kelemahan terbesar dari positivisme.

            Pada intinya sifta dari suatu organisasi sosial suatu masyarakat sangat tergantung pada pola-pola berfikir yang dominan, dan comte percaya bahwa begitu intelektual dan pengetahuan kita tumbuh maka masyarakat secara otomatis akan ikut pula. Perkembangan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, sains dan perkembangan yang lainnya selalu mengikuti hukum yang empiris sifatnya dan comte merumuskan kedalam 3 tahapannya.

B. Perkembangan Filsafat di Dunia Islam

            Perkembangan islam yang begitu cepat kala itu  serta kekuasaan pemerintahan yang semakin meluas memaksa kaum muslimin untuk berhadapan dengan berbagai kebudayaan yang sudah lebih maju. Hal ini meniscayakan suatu usaha memadukan antara islam dengan berbagai unsur yang sesungguhnya asing. Dalam sejarah pembentukan filsafat islam adalah saat bertemunya islam dengan filsafat Yunani di Bagdad pada masa kekhalifahan abbasiyah. Pada saat itu, kaum muslim tidak saja menguasai wilayah Syria dan Mesir, melainkan juga Persia dan seluruh wilayah yang dalam sepanjang sejarahnya sudah berada dibawah kebudayaan dan keilmuan Yunani. filsafat didalam islam memasuki masa keemasannya  dengan munculnya para filsuf yang terkenal diantaranya Al-Kindi (870 m), Al-Farabi (950 m), Ibnu Sina (1037 m) dan Ibnu Khaldun (1406 m). Menurut Mehdi Mohagheh  di dalam makalahnya “revival of Islamic philosophy in the safavid period with a special reference to mir damad”. Bahwa mundurnya filsafat di dunia sunni disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, Sebagian besar penerjemah yang terlibat dalam penerjemahan karya-karya filsafat Yunani kedalam bahasa Arab adalah orang-orang Kristen. Selain mereka tidak memngenal jauh apa yang mereka kerjakan, mereka juga kurang dalam penguasaan literatur bahasa arabnya. Kedua, serangan Al-Ghazali terhadap para filusuf dalam bukunya tahaful al-falasihah dan kecamannya atas mereka sebagai pembawa bid’ah karena mereka yang menyebarkan gagasan-gagasan yang tidak semestinya. Meskipun pada saat itu Ibnu Rusyd melakukan pembelaan, dengan menulis kitab tahafulal-maqal, tetapi tidak efektif. Ketiga, lebih bersifat kearah teknis dimana gaya filsafat al-farabi dan ibnu sina aga sulit dicerna dan dikaji oleh para pengkajinya.

            Kesadaran berfilsafat mulai tumbuh Kembali dikalangan umat islam hingga sekarang ini Ketika Jamaluddin Al-Afghani (1835-1897 M) memperkenalkan tradisi isyraqiyah kepada mahasiswanya. Diantaranya yaitu Muhammad Abduh, dan ditangan Muhammad abduh ini pembelajaran filsafat masuk dalam kulikulum perguruan tinggi di al-azhar yang notabene menjadi prototype perguruan agama islam di Indonesia (PTAI). Melalui PTAI inilah filsafat mulai diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia dan filsafat juga diyakini sebagai pengetahuan yang penting bagi masyarakat dalam meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan.

C. Manfaat Filsafat Dalam Perkembangan Dakwah

            Dalam tradisi filsafat isalam, para filsuf muslim tidak melakukan kajian secara spesifik tentang dakwah islam. Mereka cenderung mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan tuhan, manusia, penciptaan alam, metafisika, logika dan etika. Dakwah sendiri menurut Syeikh Ali Mahfudz ialah: mendorong manusia agar memperbuat kebaikan dan menuruti petunjuk, memerintah mereka berbuat kebajikandan melarang mereka dari perbuatan yang mungka, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat”. Sedangkan menurut Bakhyul Khullie dakwah yaitu “ dakwah ialah memindahkan situasi umat dari situasi kesituasi lain yang lebih baik.” Maka dapat ditarik kesimpulan bahwasannya dakwah ialah suatu kegiatan untuk membina manusia untuk menaati agama islam,guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Perbedaan manusia dengan makhluk lainnya terletak pada kemampuan berfikir yang dimiliki oleh manuisa. Manusia dengan akalnya mampu memikirkan berbagai hal yang terkait dengan ciptaan allah dan bahkan mengenal  penciptanya. Dengan akal juga manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk memaksimalkan fungsi akal yang ada pada diri manusia, maka perlu diupayakan pengembangannya dengan melalui proses pembelajaran filsafat. Didalam filsafat dipelajari berbagai metode dalam berfikir, sejarah pemikiran, hakikat pemikiran, dan manfaat dari sebuah pemikiran.  Sama halnya dengan akal didalam filsafat juga dipejari mengenai suatu ilmu dengan adanya  (ontology, epistimologi dan aksiologi).

            Mengingat filsafat meerupan kebutuhan dasar bagi setiap individu, maka seharusnya filsafat juuga dikenalkan kepada calon da’I dan bahkan kepada para da’I agar mereka dapat memaksimalkan akalnya dalam mengembangkan aktivitas dakwah. Da’I yang professional , salah satunya diukur dari kemampuannya dalam menyampaikan materi dakwah. Bagaimana seorang da’I dapat mengkemas materi dakwah yang dapat diterima oleh masyarakat, tidak membosankan, dan sesui dengan apa yang dibutuhkan mad’u. disamping memiliki kemampuan dalam penguasaan  bahasa dan komunikasi, juga dituntu untuk memiliki alur berfikir yang logis dan sistematis. Pada hal inilah menjadikan filsafat memiliki peranan penting dalam mengatur atur berfikir atau sesuai dengan kemampuan audiens, dan bahkan filsafat berperan dalam membantu para da’I untuk dapat memahami materidakwah yang lebih dalam dan komprehentif.

            Selanjutnya da’I juga dituntut untuk memiliki kontribusi dan pengembangan keilmuan dakwah. Pada konteks ini, dai membutuhkan teori yang dibutuhkan dalam dakwah. Dalam merumuskan sebuah teori seorang da’I , diperlukannya sebuah filsasat sebagai alat untuk menganalisis dan mengkritisi berbagai persoalan, konsep atau gagasan yang melatar belakangi munculnya teori-teori dakwah.

D. Filsafat di dalam Al-Quran

            Istilah filsafat memang berasal dari bahasa Yunani, karenannya istilah filsafat tidak ada di dalam al-quran. Jika filsafat diartikan dengan makna cinta pada kebijaksanaan, maka di dalam al-quran istilah tersebut dikenal dengan istilah al-hiqmah. Kata tesebut menjadi ciri khusus dari filsafat islamdan berakar sama dengan sifat allah al-hikmah, (maha bijaksana). Kata al-hakim berkaitan derat dengan proses dakwah, dimana dakwah , di mana dakwah bil hikmah dimaksudkan sebagai dakwah yang dilakukan dengan terlebih dahulu memahami secara mendalam sebagai persoalan yang berhubungan dengan sasaran dakwah, Tindakan-tindakan yang akan dilakukan oleh masyarakat yang akan menjadi objek dakwa, situasi tempat dan waktu saat dakwah dilaksanakan dan sebagainya.

            Kata al-hikmah dipergunakan oleh seorang filsuf  Shadra al-muta’allihin atau yang lebih dikenal dengan nama Mulla Shadra (1572-1641 M/ 979-1050 H). beliu mengembangkan 4 konsep dalam perjalanan intelektual dalam hikmah yang memuncak yaitu (al-asfar al-aqliyah al-arba’ah fi al-hikmah al-muta’aliyah). Mulla shadra mengemukakanberbagai bukti pertautan timbal balik antara seluruh potensi manusia. Peningkatan atau penyusutan salah satu bagian akan berdampak pada berbagai tingkat eksistensi manusia secara keseluruhan. Perjalanan manusia ibarat proses berkesinambung menaiki gradasi eksistensi yang tak terhingga. Melalui konsep tersebut, Mulla shadra ingin menggabungkan kekuatan-kekuatan yang ada antara filsafat, tasawuf dan toelogi ilmu kalam.

            Berbagai motivasi dan dukungan yang kuat dari al-quran terhadap penggunaan segala potensi yang dimiliki oleh manusia, maka kehadiran al-quran telah mengubah pola berfilsafat dalam kontek dunia islam secara radikal sehingga lahirlah “filsafat protektif”. Artinya realitas dan proses metahistoris penyampaian al-quran merupakan perhatian utama para pemikir islam dalam melakukan kegiatan berfilsafat. Dalam hal ini, para filsuf tidak hanya mengandalkan kepada kemampuan yang bersifat rasional dan empiris saja, melainkan juga pada kemampuan yang bersifat intuitif. Nama “protektif” menunjukan asumsi dasar tertentu tentang manusia dan dunianya.

1.         Protektif adalah nabi.

2.         Nabi adalah seorang manusia yang diyakini “diutus oleh Allah” kepada umat manusia.

3.         Allah adalah sosok supranatural yang maha esa, maha kuasa, maha pencipta, yang menciptakan dunia dengan segala isinya.

4.         Nabi diutus untuk menyempurnakan pesan-pesan dari allah agar manusia dapat selamat dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Basis paradigma protektif

Model pertama yaitu model tauhid . Model antara hubungan Allah, Nabi, Manusia dan Alam. Di dalam paradigma sains tidak ada allah dan nabi. Dan hal ini lah yang mendakian perbedaan antara protektif dan positivisme.  Model ini menunjukan manusia dan nabi dalam relasinya dengan allah -  tokoh supernatural – dan alam, yang semuanya adalah ciptaan allah. Model menunjukan dalah satu asumsi  dasar paradigma profetik asumsi tentang allah, nabi, manusia, dan alam kehidupan menunjukan satu pandangan (kerangka berfikir) tertentu mengenai kedudukan manusia dalam kehidupan di dunia. 

 

4.   Simpulan dan Saran

Positivisme merupakan salah satu aliran filsafat yang dikemukakan oleh Hendy de saint simon pada tahun 1825 yang merupakan guru sekaligus teman berdiskusi Auguste comte. Comte berhasil mengembangkan konsep positivisme. Positivisme sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu “positif”yang berarti mengedepankan sesuatu yang berupa fakta, dapat dibuktikan dengan indra-indra yang positif. Sebenarnya semua ilmu baik pengetahuan maupun sosial saling keterkaitan sama halnya dengan filsafat. Jika dilihat dari sejarah maka islam lah yang pertama kali memperkenlan filsafat lewat luqman yang hidup pada jaman nabi Daud. Namun siapa sangka bahwa filsafat mengalami perkembangan yang lebih pesat di tangan orang-orang Yunani. Dalam hal dakwah manfaat filsafat amat sangat besar dalam proses berdakwah, pemesahan masalah- masalh dakwah dan kemasyarakatannya, serta pembangunan keilmuan dakwah.

 

 

Daftar Pustaka

Bertens, K. 1975. sejarah filsafat yunani. yogyakarta: 13.

Fakhry, Majid. 2002. Sejarah Filsafat Islam. Bandung : Mizan.

Halim, Abd. 2008. Teori-teori Hukum Aliran Positivisme dan Perkembangan Kritik-kritiknya 42 (II).

Hasanah, Hasyim. 2016. Arah Pengembangan Dakwah Melalui Sisstem Komunikasi Islam 4.

Hasanah, Ulfatul. 2019. kontribusi pemikiran auguste comte (positivisme) terhadap dasar perkembangan ilmu dakwah 2 (2).

Madjid, Nurcholish. 1994. "khazanah intelektual islam." 56. jakarta: bulan bintang.

prabowo, Galeh. 2017. jurnal sosiologi walisong 1 (1): 33-64.

Wafiyah, Awaludin pimay. 2005. sejarah dakwah . semarang: Rasail.

wibisno, keonto. 1983. Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte (2-3).

wibisono, koento. 1983. Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Gomte , 2-3.

 

jurnal dakwah

  Keterkaitan Filsafat dan Pemikiran Auguste Comte ( Posivisme )Dalam Dakwah Siti Maryam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas I...